News Update

Perhimpunan Dokter Intensive Care Indonesia (PERDICI) or internationally known as Indonesian Society of Intensive Care Medicine (ISICM)

Standardisasi Pengelolaan Pasien di ICU

Apakah Standardisasi Pengelolaan Pasien di ICU Akan Meningkatkan Keberhasilan Terapi?

Menerjemahkan hasil-hasil penelitian ke praktek klinik pada pasien-pasien kritis merupakan usaha yang penuh tantangan dan seringkali prosesnya rumit serta terkesan lambat. Berbagai kepustakaan telah memuat panduan-panduan berdasarkan bukti (evidence-based guidelines) dan protokol sebagai terjemahan hasil-hasil penelitian, seperti penyapihan dari ventilasi mekanik, pencegahan infeksi nosokomial, pengelolaan, diagnosis dan terapi sepsis, serta pencegahan dan pengelolaan ventilator-associated pneumonia (VAP) yang bertujuan untuk menjadi standar pengelolaan pasien di intensive care unit (ICU) dalam rangka meningkatkan keberhasilan terapi. Contoh-contoh keberhasilan dalam meningkatkan kualitas pengelolaan pasien kritis di ICU berdasarkan panduan atau protokol sudah banyak dilaporkan.

The Surviving Sepsis Campaign (SSC) yang dibentuk pada tahun 2002 oleh European Society of Intensive Care Medicine, International Sepsis Forum, dan Society of Critical Care Medicine bertujuan memperbaiki pengelolaan diagnosis dan terapi sepsis dengan harapan terjadi penurunan angka mortalitas sepsis sampai 25%.

Pada tahun 2005, SSC bersama dengan Institute for Health-care Improvement (IHI) membuat panduan pengelolaan pasien sepsis yaitu Sepsis Bundles.

Beberapa tahun sebelumnya, IHI dalam perannya terhadap pengelolaan pasien-pasien di ICU telah membuat panduan pencegahan VAP pada pasien-pasien dengan ventilasi mekanik yaitu Ventilator Bundle.

Suatu bundle didefinisikan sebagai sekumpulan tindakan yang berhubungan dengan proses suatu penyakit, yang apabila semua dilakukan secara bersamaan akan membuahkan hasil akhir yang lebih baik, dibandingkan bila tindakan itu dilakukan sendiri-sendiri.

Bundle bukan merupakan protokol yang siap pakai di ICU atau rumah sakit. Seharusnya ICU menggunakannya sebagai template untuk menyusun suatu panduan, standar operasional dan protokol, yang disesuaikan dengan fasilitas yang tersedia.

Perhimpunan Dokter Intensive Care Indonesia (PERDICI) bersama dengan lima perhimpunan profesi dokter spesialis se-Indonesia membuat Panduan Tata Kelola Hospital-acquired Pneumonia, Ventilator-associated Pneumonia, Health care-associated Pneumonia pada pasien dewasa, yang mengadaptasi panduan yang dikeluarkan oleh ATS-IDSA tahun 2005 dan Asian HAP Working Group tahun 2008 dengan penyesuaian terhadap data mikrobiologi dan situasi lokal Indonesia.13 Panduan ini diharapkan dapat menjadi acuan pembuatan standar pelayanan dan protokol tata kelola pneumonia di ICU seluruh Indonesia.

Meskipun demikian keberhasilan pengelolaan pasien kritis tidak hanya tergantung pada adanya panduan, standar atau protokol, tetapi apakah panduan, standar dan protokol tersebut digunakan pada pasien yang tepat dan waktu yang tepat pula.

Author: Tantani Sugiman